KISAH INSPIRASI | MIE KONDANG SAKIDJAN
![]() |
ilustrasi gambar mie kondang sakidjan |
"Kalau belum kita coba jangan pernah kita mengatakan kita tidak bisa" prinsip ke tiganya seorang Sakidjan. Tepatnya pada tahun 1975 Sakidjan mulai memberanikan diri untuk terjun berjualan mie sendiri, dengan cara menyewa gerobak dan mengambil mie dari orang china. Namun waktu itu di mata masyarakat khususnya masyarakat muslim mereka beranggapan bahwa mie itu terbuat dari bahan baku yang haram. Bahkan tidak jarang pelanggan Sakidjan menannyakan bumbu dan bahan yang digunakan terbuat dari apa, maklum kala itu kebanyakan yang mengkonsumsi mie hanya orang – orang non pribumi.
Satu tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1976 dia bertemu dengan seorang gadis asal kota Wonogiri yang bernama Saikem. Pada tahun 1977 Sakidjan dikaruniai seorang putra yang bernama Sriyono yang kini juga membantu mengelola di bagian produksi. Enam tahun kemudian, pada tanggal 23 Mei 1983 Sakidjan kembali dikaruniai seorang putra yang bernama Pandiono.Skom yang saat ini juga membantu mengelola usaha di bagian marketing, outlet dan kerjasama. Tiga tahun kemudian kembali Sakidjan di karuniai seorang putri yang bernama Wuri Triningsih yang telah menyelesaikan tugas akhirnya di Ilmu Kebidanan.
Kembali ke tahun 1975 saat Sakidjan mulai berjualan mie sendiri. " Jujur, Ulet dan Pantang menyerah…" sepertinya ini adalah modal awal sakidjan. Jujur, bukan hanya dalam hal materi tapi apapun yang Sakidjan lakukan atau perbuat dia harus jujur karena Sakidjan yakin bahwa orang jujur akan di mudahkan segalanya baik itu razekinya, jalan hidupnya walau terkadang perih dan sakit intinya kita harus tetap jujur. Ulet, bukan sejenis binatang melainkan sebuah sifat yang ada pada diri Sakidjan. Orang jawa bilang " Time is Money…" yang artinya waktu adalah uang, bukannya Sakidjan mata duitan tapi semua itu demi tuntutan hidupnya yang harus memberi nafkah anak dan istrinya. Tak kenal hujan, panas dan sakit Sakidjan harus tetap berjualan. Di dalam benak seorang Sakidjan jika kita belum sampai dirawat di RS ( Rumah Sakit ) atau kita sakit tapi masih bisa bangun dari tempat tidur berarti kita masih bisa untuk mencari nafkah. Pantang menyerah, ketika itu penjualan mie Sakidjan tak ada kenaikan, pada hal dia harus membayar sewa gerobak yang per harinya Rp. 200,- sedangkan pada waktu itu harga mie baru Rp. 60,-. Rasa putus asa mulai menyelimuti benak Sakidjan, karena pada waktu itu hanya segelintir orang yang mau makan mie.
Waktu terus berjalan dan usaha Sakidjan terus menanjak. Di tahun 1987 Sakidjan sudah mempunyai 15 anak buah (Karyawan), beberapa pangkalan (red: tempat jualan) yang tersebar di kawasan senayan dan jakarta selatan serta Sakidjan serta mensuplai mie kepada sekitar 50 gerobak dorong.
Pengalaman adalah mata pelajaran yang tidak di ajarkan di sekolah manapun. Lagi lagi itulah prinsip Sakidjan. Di tahun itu pula (1987) ia mendapatkan pembinaan dari Bogasari. Pembinaan demi pembinaan di dapatkannya,hingga solusi dari permasalahnya selama ini, di dapatkannya pula, dari pangkalan berubah menjadi Outlet, dari segi service terhadap konsumen dll. Rasa ingin maju Sakidjan kian menggebu gebu apa yang dia dapat dari pembinaan Bogasari di saring dan serap hingga akhirnya Sakidjan terus eksis sebagai pengusaha MIE AYAM BAKSO. Namun pada waktu itu Sakidjan masih memakia nama MIE TUNGGAL RASA untuk setiap outletnya. Karena nama tersebut adalah nama paguyuban dari Bogasari yang mana siapapun yang memakai produk Bogasari berbasis tepung terigu berhak untuk memakai nama tersebut. Akhirnya Sakidjan mengganti nama menjadi MIE KONDANG yang artinya Mie terkenal, harapan Sakidjan mienya bisa terkenal minimal seluruh Indonesia.
Waktu terus berjalan Sakidjan pun terus mengikuti pembinaan – pembinaan dari Bogasari, walapun begitu usahanya tetap berjalan itupun salah satu hasil dari pembinaan Bogasari. Dimana kini tanpa adanya campur tangan Sakidjan usahanya mampu melayani 7 Outlet yang tersebar di Jakarta Selatan dan Tanggerang, 80 pedagang gerobak dorong, belum lagi jika ada pesanan untuk acara – acara. Hinga akhirnya pada tahun 2004 MIE KONDANG Sakidjan sampai di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Pada waktu itu MIE KONDANG nya di percayai melayani acara Open House di Cikeas yang mana per harinya bisa mencapai 2000 porsi selama satu bulan.
Tidak terasa 35 tahun sudah tepat pada tahun ini 2010 Sakidjan merintis usahanya, dan kini Sakidjan mampu melayani 10 outlet yang beberapa adalah kerjasama, melayani 135 pedagang gerobak dorong serta melayani catering untuk Pejabat – pejabat tinggi negri ini khususnya TNI.
Itulah sepenggal kisah tentang Bpk. Sakidjan diamana beliau mendirikan usahanya dalam rentang waktu yang panjang.
"Pahit itu harus kita rasakan karena manisnya tinggal kita telan"
Sumber forum UCEO
0 Response to "KISAH INSPIRASI | MIE KONDANG SAKIDJAN"
Post a Comment